Tingkatkan Wawasan Personelnya Puskomlekad Gelar FGD Geopolitik Global
Jakarta – Pushubad menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri Kapushubad Mayor Jenderal TNI Iroth Sonny Edhie, M.H.I., bersama Waka Pushubad Brigadir Jenderal TNI Dede Mulyana, S.Sos, M.Tr.(Han)., para Direktur dan Pejabat Utama Pushubad serta para Kahub Kotama TNI AD di aula Puskomlekad Jakarta Barat, Senin (4/8/2025).
FGD dengan tema Geopolitik Global kali ini menghadirkan dua orang narasumber yakni Senior Diplomat At the Center For Policy Strategy For The Asia Pasific and Africa, Diana E.S. Sutikno dan Sahli Kasad Mayjen TNI Assoc. Prof. Dr. Budi Pramono, SIP., M.M., M.A., (GSC)., CIQaR., CIQnR., MOS., MCE.,CIMMR.
Kapushubad dalam sambutannya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada narasumber yang telah bersedia hadir dan memberikan pencerahan tentang kondisi Geopolitik dunia yang terjadi saat ini. Pencerahan itu, menurutnya, akan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang Geopolitik global, isu-isu strategis dan intelijen startegis di lingkungan regional maupun internasional dan bagaimana dampaknya terhadap kelangsung hidup dalam berbangsa dan bernegara.
Mayjen Iroth Sonny Edhie juga meminta kepada seluruh peserta FGD untuk fokus dan memperhatikan penjelasan dari narasumber sehingga mengetahui posisi Geopolitik Indonesia di lingkungan regional khususnya di wilayah Asia Tenggara dan internasional.
Pada sesi pertama, paparan disampaikan oleh Diana E.S. Sutikno tentang “Posisi Geopolitik Indonesia dalam Kontek Hubungan Regional Asia Tenggara”. Diana dalam penjelasannya menyorot tentang tantangan Geopolitik global, isu kerja sama bilateral Asia Tenggara, tantangan arsitektur kawasan Asia Tenggara, pandangan Asean tentang Asia Pasifik dan diplomasi Indonesia di tengah tantangan Geopolitik.
Diana juga menyinggung sepuluh megatren global yang sedang terjadi yaitu berkaitan dengan perkembangan demografi global, dinamika Geopolitik dan Geoekonomi, perkembangan terknologi, peningkatan urbanisasi dunia, perubahan konstelasi perdagangan internasional, keuangan internasional, pertumbuhan kelas menengah, peningkatan persaingan pemanfaatan sumber daya alam, perubahan iklim dunia dan peranan berkembang ekonomi.
Lebih lanjut, ia juga menyebutkan terkait isu keamanan wilayah perbatasan yang rawan terhadap tindak pidana internasional seperti penyelundupan narkoba, perdagangan dan penyelundupan manusia (TPPO), terorisme, penyelundupan senjata dan penyelundupan barang ilegal.
Beberapa permasalahan yang menjadi tantangan bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara antara lain sengketa laut Cina Selatan yang menjadi isu yang sulit untuk diatasi, konflik internal Myanmar yang saling memperebutkan wilayah dan konflik Thailand dengan Kamboja terkait dengan sengketa wilayah teritorial yang berpusat pada Kuil Preah Vihear yang terletak di dekat perbatasan kedua negara.
Dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan lebih tegas dan pragmatis dalam pendekatan dan keterlibatannya di tingkat regional dan global. Indonesia tidak berpihak secara eksklusif dengan blok kekuatan besar mana pun, namun tetap fleksibel demi kepentingan nasional. ingin mewujudkan hubungan yang seimbang, bebas dan harmonis dengan ikatan ekonomi yang semakin erat.
Indonesia akan memperkuat partisipasi aktifnya dalam organisasi Brazil, Rusia, India, Tiongkok dan Afrika Selatan (BRICS) dan organisasi for economic cooperation and development (organisasi untuk kerja sama dan pembangunan ekonomi/OECD) dan aktif pada forum-forum global.
Diana juga mengingatkan tentang air sebagai sumber konflik ke depan yang dihadapkan dengan pertumbuhan penduduk dunia yang semakin pesat dan pemenuhan kebutuhan air bersih untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, ia berharap TNI berperan aktif dalam menjaga sumber-sumber air untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat.
Sedangkan Mayjen TNI Prof. Dr. Budi Pramono menyampaikan tentang “Geopolitik Indonesia : Strategi Pelihara Keamanan Nasional di Tengah Dinamika global”. Dalam penjelasannya, Budi Pramono menjelaskan tentang beberapa tujuan dari Geopolitik diantaranya meningkatkan keamanan dan pertahanan nasional dalam rangka melindungi kedaulatan dan mengamankan batas wilayah negara, membangun aliansi strategis dengan membentuk kerja sama dengan negara lain yang memiliki kepentingan yang sama, mengoptimalkan sumber daya strategis seperti minyak, gas dan logam, dan mengembangkan pengaruh global melalui kekuatan militer, ekonomi dan diplomasi.
Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan transformasi Geopolitik global dengan memanfaatkan konsep trigatra dimana posisi geografis berada pada diantara dua benua (Asia dan Australia), dan dua samudra (Hindia dan Pasifik) yang menjadikan Indonesia sebagai jalur perdagangan internasional yang ramai di lalui. Potensi demografis sangat produktif menjadi modal Geopolitik utama dan sumber kekayaan alam yang melimpah menjadikan incaran negara lain.
Potensi tersebut menurutnya, dapat membahayakan kadaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa baik dalam bentuk ancaman militer, non militer dan ancaman hibrida yang merupakan gabungan dari berbagai jenis ancaman.
Mayjen Prof. Budi Pramono juga menyampaikan semua ancaman tersebut harus dapat diatasi dengan meletakkan wawasan nusantara sebagai pondasi Geopolitik untuk menyatukan visi ideologis, geografis dan strategis bangsa sehingga relevan untuk menghadapi rivalitas kekuatan besar di Indo-Pasifik termasuk penguatan pertahanan maritim dan siber.
Ini domainnya ada di Puskomlekad khususnya terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi serta penguasaan sembilan komponen strategis sebagai bargaining dan trobosan untuk memajukan Komlek TNI AD itu sendiri.
Ia juga meminta agar Prajurit Komlekad harus terus belajar dan mengembangkan diri, dan jangan merasa puas dengan kondisi yang sudah dicapai. Perubahan nomenklatur menjadi Komlek TNI AD akan memberikan peluang untuk menjadi pasukan terdepan dalam pertempuran, karena suatu pertempuran tidak dapat dimenangkan tanpa ada Komlek.
FGD yang dilakukan secara luring bagi peserta yang berasal dari satuan wilayah Jakarta dan Bandung serta secara daring bagi para Kahub Kotama seluruh Indonesia ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi terkait dengan Geopolitik regional dan global serta solusi untuk menjawab tantangan tugas kedepan yang semakin dinamis dan kompleks.

